Kamis, 02 Juli 2020

SEJARAH PANDEGLANG


KEBERADAAN SITUS CIHUNJURAN DAN DUGAAN KEBERADAAN KERAJAAN SALAKANAGARA 
Oleh :
Uri  M. Rachmawiana, S.Pd.
PENDAHULUAN
        Sebelum tahun 2000 berbagai kajian sejarah dan kebudayaan Banten selalu bersumber pada dua wilayah budaya yang spesifik, yaitu tradisi etnografi Baduy yang dianggap representasi orisinilitas budaya Sunda dan tradisi Kesultanan Banten yang merepresentasikan elemen-elemen modernitas Banten sejak kedatangan Islam sekurang-kurangnya dari paruh pertama abad XVI.
Harus kita akui, banyak fakta menunjukkan bahwa beberapa peristiwa sejarah telah demikian kuat mewarnai identitas budaya hampir diseluruh wilayah Banten. Namun, persoalannya terletak pada kenyataan bahwa identitas budaya itu merupakan hasil proses sejarah, yang mungkin selama proses itu berlangsung telah terjadi pembentukan identitas bahkan ada kecenderungan selalu diperbaharui mengikuti perubahan-per-ubahan sosial dan budaya.
Kepurbakalaan di lereng Gunung Pulasari untuk pertama kali diteliti oleh sebuah tim dari Pusat Peneli tian Purbakala dan Peninggalan Nasional Jakarta pada tahun 1979. Namun, penelitian tersebut hanya peninjauan lapangan dalam rangkaian kegiatan ekskavasi di Anyer. Penelitian ini mendokumentasikan dolmen (Batu Ranjang), lumpang batu, dan arca batu (Sanghyang Dengdek) di lereng barat, sebagai hasil ke-budayaan materi yang bercorak megalitik.


Penelitian kedua dilakukan oleh Dr. Claude Guillot (Prancis) tahun 1990an, sebagai rangkaian dari pe-nelitian yang sedang dilakukannya di daerah Sempu (Situs Banten Girang), yang menjadikan G Pulasari sebagai pembanding keberadaan kekeramatan religi pra-Islam.
Sebuah penelitian lapangan telah dilakukan oleh tim penulis buku “Sejarah Banten” yang dipimpin oleh Yoseph Iskandar (alm) pada tahun 2000. Walaupun belum menerapkan pendekatan Arkeologi dalam penelitiannya, tim telah memerikan hampir seluruh situs megalitik di lereng Pulasari. Selain itu tim ini pun menjadi perintis pengungkapan fakta-fakta baru yang mencakup hampir seluruh situs di lereng Pulasari yang merefleksikan budaya lokal di pedalaman Banten.
Pekerjaan yang sama juga dilakukan oleh Suaka Purbakala Banten (sekarang BP3S), yang telah men-dokumentasikan kompleks megalitik di situs Citaman dan Batu Goong. Juga dilakukan oleh Balai Arkeologi Bandung pada tahun 2001, yang telah mencatat penemuan dua buah genta pendeta yang ditemukan oleh penduduk kampung Salangari (Suryana) ketika sedang membajak sawahnya. Genta dari bahan perunggu itu diperkirakan berasal dari abad XII-XIV.
Rangkaian penelitian awal di situs-situs arkeologi sekitar lereng Gunung Pulasari tersebut dapat dijadi-kan sebagai acuan bagi pengembangan penelitian arkeologi yang terfokus pada kompleks pertapaan dilereng sebelah utara. Namun selain itu, terdapat sumber lain yang juga penting untuk membantu interpretasi, yakni tradisi lisan yang masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Pandeglang.
Salah satu ceritera yang menarik adalah kisah perjalanan Maulana Hasanuddin bersama ayahnya, Syarif Hidayatullah, ke pedalaman Banten. Diceritakan bahwa setibanya mereka di Banten, mereka melakukan serangkaian upacara keagamaan di Gunung Karang, Pulasari dan Lancar (Aseupan). Dalam perjalanan itu Syarif Hidayatullah yang belakangan dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati, menyatakan bahwa Gunung Pulasari adalah tempat Brahmana Kandali, dimana tinggal 800 orang pertapa yang dipimpin oleh Pucuk Umun. Konon setelah berhasil mengalahkan mereka, Hasanuddin tinggal bersama mereka selama sepuluh tahun lebih (Guillot; 1996)
SITUS CIHUNJURAN
Foto Dokumentasi Pribadi
Istilah Cihunjuran dibentuk dari kata Sunda ci (air) dan hunjur(bukit kecil), dimaksudkan untuk menyebut sebuah lokasi yang dikarakterisasikan oleh kompleks mata air yang keluar dari salah satu bukit di tepi utara Gunung Pulasari dan membentuk kolam kuno. Situs Cihunjuran terletak pada posisi 06018’50.4”LS dan 105058’13.4”BT dengan ketinggian antara 450-470 mdpl. Situs ini merupakan kaki bukit yang amat terjal dan berbatu. Istilah Cihunjuran diberikan oleh penduduk setempat untuk menyebut satu kompleks mata air yang keluar dari celah-celah batu besar di bawah bukit. Agaknya sudah cukup lama sumber Cihunjuran ini mengeluarkan air dengan debit yang cukup tinggi, sehingga membentuk kolam kuno dan sungai m yang berbatu dan dimanfaatkan untuk mengairi sawah di sebelah timur dan utara wilayah Mandalawangi.
Secara administratif situs Cihunjuran terletak di wilayah Desa Cikoneng, Kecamatan Mandalawangi. Pada kurun waktu 1968-2004 di sebelah barat situs tinggal keluarga Burhan (almarhum) yang sekaligus sebagai “pemelihara” keramat Cihunjuran. Dikatakan demikian karena ada beberapa komunitas yang meman faatkan situs ini sebagai tempat berziarah. Tapi tidak sedikit pula masyarakat memanfaatkan keberadaan kolam kuno ini sebagai tempat untuk mandi dan berekreasi di saat-saat hari libur dan seusai pulang sekolah.
Foto Dokumentasi Pribadi
Dari semua kepentingan itu, kegunaannya lah yang perlu diberikan catatan khusus. Perhatian yang harus diberikan pertama-tama adalah kompleks mata air Cihunjuran. Kendatipun sebagian besar areal telah beralih fungsi menjadi keramat yang dikaitkan dengan “makam” seorang tokoh bernama Kiai Perbu Raja Tubagus Angling Darma alias Ki Jangkung sebagaimana dituturkan oleh Abah Burhan pada tahun 2001. Walaupun sekarang sudah diberi cungkup dan pagar keliling,  tetapi masih tampak bahwa sesungguhnya kompleks itu mengindikasikan satu set ruang pemujaan arkaik yang ditandai oleh keberadaan kelompok menhir (batu tegak), batu lumpang, batu berlubang, dan monolit-monolit yang difungsikan sebagai altar dengan bidang permukaan yang rata disekitar mata air/kolam kuno.
Foto Dokumentasi Pribadi
  Pada kompleks tersebut sekurang-kurangnya terdapat tiga monolit berdiri (menhir) dan beberapa lainnya ada yang tergolek di sisi tebing yang dahulu terperangkap disela-sela akar. Dua monolit diantaranya seperti disusun ulang menjadi dua buah nisan yang menandai sebuah “makam” diorientasikan utara-selatan dan dikelilingi oleh fondasi dari tembok berlapis tegel keramik.
Dengan ketinggian antara 68-88 cm dan diameter 25-56 cm monolit-monolit yang terbuat dari batu andesit itu berbentuk bulat panjang dan empat persegi panjang. Di bagian bawah kelompok menhir tersebut terdapat beberapa monolit yang bagian atasnya datar dan tampak bekas pemakaian yang memberi bentuk cekungan yang halus. Satu diantara monolit-monolit yang mengitari mata air ada sebuah batu lumpang dengan bentuk hampir segi empat berukuran antara 30 – 45 cm.
Batu-batu sejenisnya juga ditemukan pada kolam penampungan (kolam renang) yang dibatasi tembok keliling sebelum disalurkan ke sungai kecil dan persawahan sekitarnya. Monolit-monolit besar itu terutama ditandai oleh sebuah lubang atau lebih di bagian atasnya baik berbentuk bulat maupun segi tiga ganda (double point). Di kolam ini juga terdapat sejumlah monolit yang bagian atasnya berbentuk cekungan yang halus menampakkan bekas kegiatan memipis atau mengasah. Beberapa batu tampak sudah tidak in situ lagi dan digunakan untuk memperkuat fondasi tembok keliling.
Pada hamparan sawah di sebelah timur laut kompleks mata air, ditemukan secara tersebar batu-batu sejenisnya. Namun hanya satu saja yang tampaknya masih in situ yakni sebuah batu dengan panjang maksimum 180 cm tertanam pada sebidang tanah sawah. Sisa kegiatan manusia pada batu alam ini tampak pada bidang datar batu yang memiliki sebuah lubang berdiameter 15 cm. sedangkan batu-batu lainnya telah mengalami beberapa kali pemindahan sejalan dengan pembukaan sawah dan pembuatan pematang-pematang Bukti dari proses pemindahan itu adalah dengan ditemukannya banyak monolit yang dijadikan fondasi pematang sebelum ditutup dengan tanah urugan. Contoh terbaik dari monolit-monolit yang pernah difungsikan itu adalah sebuah batu andesit yang ditemukan menyilang saluran air (sungai). Batu alam tersebut memiliki lubang 7 buah menyerupai alat untuk permainan dakon atau congklak, tetapi dengan ukuran dan kedalaman bervariasi. Monolit lainnya terdiri dari batu berlubang dan batu pipisan yang tersebar mengikuti aliran air ke arah timur (sekarang dikumpulkan pada ruang penyimpanan di sebelah utara komplek menhir).
Kekunaan lain ditunjukkan oleh sebaran pecahan keramik yang merata di seluruh pematang sawah. Temuan berupa fragmen yang pada umumnya kecil bahkan amat kecil, kemungkinan asalnya dari petak-petak sawah yang selalu dibuang ke saluran air terutama pada waktu pengolahan pra-tanam. Sebagian temuan itu bahkan menunjukkan bekas-bekas hitam karena seringnya ikut terbakar bersama jerami. Namun yang penting adalah bahwa fragmen-fragmen itu menunjukkan kronologi relatif seperti ditunjukkan oleh pecahan keramik tertua dari Cina, Lingquan (abad XIII-XIV), dari Sawankhalok, Thailand dan Annam (Vietnam) antara abad XIV-XV. Sedangkan kronologi termuda ditunjukkan oleh pecahan keramik Biru-Putih dari Swatow dan dari masa Qing serta Eropa (abad XVIII-XIX). Selain fragmen keramik, juga ditemukan pada tempat yang sama sejumlah fragmen wadah tembikar baik dari bahan yang kasar maupun halus. Bersamaan dengan itu ditemukan pula beberapa keping tatal batu dari bahan rijang (chert) dan sepotong manik-manik dari bahan mineral putih kusam.
Dengan keragaman temuan arkeologis itu, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa situs Cihunjuran yang pada masa prasejarah merupakan pusat ritual keagamaan, bahkan berlanjut pada masa religi Sunda dan Hindu, bahkan diduga kuat Syarif Hidayatullah dan Hasanuddin pun pernah bermukim di tempat ini. Pada perkembangan selanjutnya dihuni oleh kelompok-kelompok masyarakat agraris, dan telah mengenal barang-barang impor.
SALAKANAGARA
Sesungguhnya, berita tentang pernah adanya sebuah kerajaan tertua di Nusantara, telah dilacak oleh N.J. Krom dalam buku Het Hindoe-Tidjperk (1938:121), sebagaimana yang dikutip oleh Atja dan Edi S. Ekadjati, dalam pendahuluan buku Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara I.1 (1987:31), antara lain sbb:
Suatu berita Tionghoa yang tertanggal seksama, dari tahun 132 sesudah Masehi menjadi samar pula, oleh karena tidak dapat ditafsirkan dengan pasti. Dalam tahun itu tersebutlah raja Ye-tiao yang bernama Pien dan mengirimkan utusan ke Tiongkok dan Raja Tiao-pien tersebut memperoleh hadiah kehormatan. Dalam nama tanah itu dapatlah dikenal Yawadwipa (Pulau Jawa), yang mana akan berarti, bahwa diwaktu itu pula telah disebut pada nama Sanskertanya orang Tionghoa. Memang mungkin sekali, seperti akan ternyata nanti bahwa pulau itu pada waktu itu telah memakai nama yang diberikan oleh orang Hindu. Jauh lebih lemah tafsiran nama raja itu dengan Dewawarman, yang bukan saja berarti, bahwa nama raja inilah kiranya yang tertua yang kita kenal di Nusantara, tetapi juga akan menerangkan, bahwa proses penghinduan sudah dimulai pada waktu itu, baik oleh karena seorang Hindu telah datang dan menetap dan menjadikan dirinya raja, maupun seorang raja Nusantara telah mengambil nama Hindu tersebut (Effendi, 1950:11).
Sartono Kartodirdjo, mengutip tulisan N.J. Krom dalam Hindoe-Javaanscht Geschiedenis (1931), antara lain sebagai berikut :
Berita lainnya yang juga tidak dapat dipastikan kebenarannya ialah berita Cina yang berasal dari tahun 132 M. Di dalam berita itu disebutkan, bahwa raja Ye-tiao yang bernama Pien, meminjamkan meterai mas dan pita ungu kerajaannya kepada maharaja Tiao-pien. Menurut dugaan sarjana Perancis G. Ferrand, Ye-tiao dapat disesuaikan dengan Yawadwipa, sedangkan Tiao-pien merupakan lafal Cina dari nama sanskerta Dewawarman (Kartodirdjo, 1977:36-37).
 Untuk lebih jelasnya, D.G.E. Hall, guru besar emiritus Sejarah Asia Tenggara – Universitas London, mengemukakan hal yang sama, antara lain :
Bahwa laporan orang-orang Cina berikutnya, tahun 132, mungkin ada artinya dalam hubungan ini, seandainya interpretasi yang agak kurang pasti dari nama-nama yang disebut mempunyai nilai. Disebut upacara penerimaan oleh Kaisar Han untuk suatu perutusan yang membawa hadiah kehormatan dari seorang raja Ye-tiao bernama Tiao-pien. Apakah Ye-tiao merupakan terjemahan kedalam bahasa Cina dari istilah sanskerta, Javadvipa, pulau Jawa, dan apakah nama raja itu sama dengan Dewawarman dalam bahasa Sanskerta?
Informasi yang nampaknya lebih pasti, datang dari akhli Ilmu Bumi asal Alexandria bernama Claudius Ptolomy, yang menulis pada tahun 165 atau mungkin lebih awal lagi, dan jelas menggunakan sumber-sumber yang lebih tua lagi. Buku VII dari Geographianya, secara detail berisi tentang Asia Tenggara, yang menggambarkan negeri Perak dan negeri Mas dekat kota-kota di Semenanjung Mas, “Chryse Chersonesus”. Di antara pulau-pulau Nusantara disebut “Barousai Lama”, dihuni oleh pemakan daging manusia, “Sabadeibai Tiga”, juga dihuni oleh pemakan daging manusia, dan pulau Yabadiou atau Sabadiou nama yang berarti negeri Jelai, yang dikatakan sangat subur dan menghasilkan emas banyak dan ibukotanya di ujung sebelah baratnya, sebuah kota dagang bernama Argyre atau Kota Perak (Hall dlm Soewarsa,1988:17).
Pendapat D.G.E. Hall, dipertegas lagi oleh Sartono Kartodirdjo, sebagaimana yang dikemukakan dalam buku Sejarah Nasional Indonesia II, adalah sebagai berikut :
Dalam buku Geographike, kita bertemu kembali dengan nama-nama tempat yang berhubungan dengan logam mulia, yaitu emas dan perak. Tempat-tempat tersebut ialah Argyre Chora, yaitu negeri Perak, Chryse Chora, negeri Emas dan Chryse Chersonensos, semenanjung emas. Kitab ini menyebutkan pula nama tempat Iabadiou, yaitu Pulau Enjelai (Kartodirdjo, 1977:6)
Menggunakan sumber yang sama, pendapat Yogaswara yang dikutip oleh Halwany Michrob, menge-mukakan antara lain sebagai berikut :
Berita yang paling meyakinkan tentang hubungan Banten dengan Eropa, India dan Cina adalah dengan ditemukannya peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus. Peta ini dibuat pada tahun 165 M. berdasarkan tulisan geograf Starbo (27-14 sM) dan Plinius (akhir abad I M). Dalam peta ini digambar-kan tentang jalur pelayaran dari Eropa ke Cina dengan melalui; India, Vietnam, ujung utara Sumatra, kemudian menyusuri pantai barat Sumatra, Pulau Panaitan, Selat Sunda, terus melalui Laut Tiongkok Selatan sampai ke Cina (Yogaswara, dalam Michrob, 1993:32).
Bermula dari sebuah berita Cina dari zaman dinasti Han, memberitakan bahwa “raja Ye-tiao bernama Tiao-pien, mengirimkan utusannya ke Cina dalam tahun 132 Masehi”. Ye-tiao diduga sama dengan Yawa-dwipa atau Yabadiu, dan nama Tiao-pien diduga sama dengan Dewawarman. Menurut Ayatrohaedi, Tiao artinya Dewa, dan Pien artinya Warman.
Bila kedua berita dari Cina dan Ptolomeus ini digabungkan, dengan sendirinya diduga kuat, bahwa hal tersebut menyangkut keberadaan sebuah kerajaan di ujung barat Pulau Jawa.
Sejak pertengahan abad I, selat Sunda telah dimanfaatkan sebagai salah satu Jalur perdagangan dari Asia Barat ke Cina. Sehingga dukuh-dukuh yang ada disekitarnya, termasuk yang berada di pesisir barat Pulau Jawa, berkembang pesat menjadi ramai sebagai tempat transit dan mengambil air tawar. Salah satu dukuh yang paling besar berada di tepi pantai di lereng barat Gunung Pulasari. Adapun penghulu atau penguasa wilayah pesisir Jawa Kulon bernama Aki Tirem atau Sang Aki Luhur Mulya. Sang penghulu mem-punyai seorang putri yang cantik jelita bernama Pwahaci Larasati, yang kelak diperistri oleh duta keliling dari negeri Pallawa bernama Dewawarman.
Tatkala Aki Tirem sakit, sebelum meninggal, ia menyerahkan kekuasaannya kepada sang menantu. Dewawarman tidak menolak diserahi kekuasaan atas daerah itu, sedangkan semua penduduk menerimanya dengan senang hati. Demikian pula para pengikut Dewawarman, karena mereka telah menjadi penduduk di situ, lagi pula banyak di antara mereka yang telah beranak pinak.
Setelah Aki Tirem wafat, Sang Dewawarman menggantikannya sebagai penguasa pesisir barat pulau Jawa, dengan nama nobat Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Raksa Gapura Sagara, sedangkan istri-nya, Pohaci Larasati menjadi permaisuri, dengan nama nobat, Dewi Dwani Rahayu. Kerajaannya diberi nama Salakanagara (salaka = perak, nagara = negeri).
Daerah kekuasaan Salakanagara, meliputi pesisir barat Pulau Jawa dan semua pulau yang ada di sebelah barat Nusa Jawa. Laut diantara Pulau Jawa dan Sumatera, masuk pula dalam wilayahnya. Oleh karena itu, daerah-daerah sepanjang pantainya, dijaga oleh pasukan Sang Dewawarman, sebab jalur ini meru pakan gerbang laut. Perahu-perahu yang berlayar dari timur ke barat dan sebaliknya, harus berhenti dan membayar upeti kepada Sang Dewawarman. Pelabuhan-pelabuhan di pesisir barat pulau Jawa, Nusa Mandala (mungkin Pulau Panaitan), Nusa Api (Krakatau), dan pesisir Sumatera bagian selatan, dijaga oleh pasukan Dewawarman.
Wangsa Dewawarman, memerintah Kerajaan Salakanagara di bumi Jawa Kulon, dengan ibukotanya Rajatapura (kota perak), kurang lebih selama 233 tahun, yaitu dari tahun 132 sampai tahun 363 masehi. Letak tepatnya Rajatapura sampai saat ini belum dapat ditentukan, akan tetapi berdasarkan kajian beberapa literatur dan perkiraan topografi, diduga kuat letak Rajatapura adalah di Kp. Mandalawangi. Adapun raja-raja yang pernah memerintah Salakanagara adalah sebagai berikut :
1. Prabhu Darmalokapala Dewawarman Haji Raksagapurasagara        (Dewawarman I)          130 – 168 M.
2. Prabhu Digwijayakasa Dewawarmanputra                                       (Dewawarman II )        168 – 195 M.
3. Prabhu Singhasagara Bhimayasawirya                                             (Dewawarman III)       195 – 238 M.
4. Prabhu Dharmasatyanagara  (menantu DW-3)                                 (Dewawarman IV)       238 – 252 M.
5. Prabhu Amatyasarwajala Dharmasatyajayawarunadewa                  (Dewawarman V)        252 – 276 M .
    Rani Mahisasuramardini Warmandewi (permaisuri DW-5)                                      276 – 289 M.
6. Prabhu Ganayana Dewalinggabhumi                                               (Dewawarman VI)       289 – 308 M.
7. Prabhu Bhimadigwijaya Satyaganapati                                            (Dewawarman VII)      308 – 340 M.
8. Rani Sphatikarnawa Warmandewi  (permaisuri DW-8)                                                        340 – 348 M.
    Prabhu Dharmawirya Dewawarman Sakalabhuwana                       (Dewawarman VIII)     348 – 363 M.
Setelah Dewawarman VIII wafat, kerajaan Salakanagara posisinya sebagai kerajaan induk digantikan oleh Kerajaan Tarumanagara, yang beribukota di Sundapura, ditepi sungai Citarum dekat Bekasi sekarang. Raja pertamanya bernama Jayasinghawarmanguru Dharmapurusa Sang Maharsi Rajadhirajaguru, yang juga merupakan menantu dari Raja Dewawarman VIII.
PENUTUP
 Setelah melihat uraian di atas. Berdasarkan kajian hasil penelitian arkeologi, dapat disimpulkan bahwa Situs Mata Air Cihunjuran (Situs Cihunjuran) dengan Menhir dan Kolam Kunonya merupakan tempat kegiatan spiritual (kabuyutan), sejak masa prasejarah (Animisme), Agama Hindu, Religi Sunda hingga masuk dan berkembangnya Agama Islam. Bahkan kemudian berkembang menjadi pemukiman kuno, hal ini ditandai dengan ditemukannya fragmen keramik asing, fragmen tembikar, manik-manik dan tatal batu.
 Yang memperkuat bahwa Cihunjuran pernah dihuni oleh manusia adalah ditemukannya batu-batu ber lubang dan fragmen batu coet, serta keberadaan makam tua yang oleh penduduk sekitar disebut Balawiku, Bala berarti Pasukan/kelompok dan Wiku berarti Pendeta. Kompleks makam ini berada di sisi Timur Laut dari Situs Cihunjuran.
Sedangkan Kerajaan Salakanagara adalah merupakan Kerajaan tertua di Nusantara. Berdiri antara tahun 132 – 363 Masehi. Bukti-bukti keberadaan kerajaan ini dapat dilacak melalui peninggalan-peninggalan berupa arca-arca Pulasari (disimpan di Museum Nasional, Jakarta) dan Genta Pendeta, serta melalui naskah-naskah Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara karya Pangeran Wangsakerta, berita Cina, maupun buku Geographike karya Claudius Ptolomeus serta peta-peta kuno.
Hanya dikarenakan bukti tertulis yang berasal dari masa Salakanagara belum ditemukan, maka kebera-daan kerajaan ini banyak diragukan oleh para ahli sejarah Indonesia sendiri. Namun tidak ada salahnya kita sebagai orang Banten tetap meyakini bahwa kerajaan ini pernah ada dan merupakan suatu kebanggaan bagi orang Banten bahwa kerajaan tertua di Nusantara berada di bumi Banten tercinta ini.
Diharapkan, pada masa yang akan datang akan lahir peneliti-peneliti muda yang akan berhasil mengungkap keberadaan Kerajaan Salakanagara ini. Baik berupa peninggalan artefaknya maupun bukti tertulisnya.

Bahan Pustaka:
  1. Fadillah, Dr. Moh Ali dkk, 2003, Tapak Peradaban Purba di Lereng Gunung Pulasari, Disparsenibud Kabupaten Pandeglang dan Banten Heritage.
  2. Hall, D.G.E, 1988, Sejarah Asia Tenggara, Usaha Nasional, Surabaya.
  3. Iskandar, Yoseph dkk, 2001, Sejarah Banten “Dari masa nirleka, hingga akhir kejayaan Kesultanan Banten”, Tryana Sjam’un Corp, Jakarta.
  4. Kartodirdjo, Sartono; Marwati Djoened Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto, 1977, Sejarah Nasional Indonesia II, Balai Pustaka, Jakarta.

10 komentar: