Oleh : Hibar Firdaus, M.Pd.
(Guru IPS SMP Negeri 2 Sukaresmi,
Kab. Pandeglang)
Dalam suatu proses
pembelajaran di kelas, guru hendaknya memikirkan dan memiliki cara atau
strategi yang menarik agar peserta didik menyukai dan senang terhadap mata
pelajaran yang diberikan. Peserta didik yang senang dengan mata pelajarannya
akan terdorong dan tertarik untuk belajar dengan rajin. Dengan demikian,
kemampuan peserta didik dalam melakukan pembelajaran dapat meningkat bahkan
akan mampu memecahkan sebuah permasalahan. Penggunaan strategi yang tepat dapat
membangkitkan motivasi dan aktivitas pembelajaran sehingga peserta didik mampu
menerima dan menyerap pelajaran dengan baik serta tidak mudah merasa bosan,
melainkan akan menyenangkan dalam belajar.
Terkait dalam
pembahasan ini yaitu Strategi Pembelajaran IPS, selama ini banyak strategi
dalam sebuah proses pembelajaran IPS yang hanya sedikit melibatkan peserta
didik maupun interaksi sesama peserta didik secara langsung.
Istilah strategi pembelajaran sering disamakan dengan model
pembelajaran, padahal keduanya memiliki konsep pemahaman, dan karakteristik
yang berbeda. Istilah model pembelajaran memiliki makna yang lebih luas dari
strategi pembelajaran. Model pembelajaran merujuk pada paradigma tertentu yang
menjadi kerangka berpikir dan tindakan dalam pembelajarannya. Misalnya Model pembelajaran perilaku dibangun atas dasar
teori yang umum, yaitu kerangka teori perilaku. Salah satu cirinya adalah
kecenderungan memecahkan tugas belajar kepada sejumlah perilaku yang
kecil-kecil dan berurutan serta dapat terukur. Belajar dipandang sebagai
sesuatu yang tidak menyeluruh, tetapi diuraikan dalam langkah-langkahyang
konkrit dan dapat diamati. Mengajar berarti mengusahakan terjadinya perbuatan
dalam perilaku peserta didik, dan perubahan tersebut haruslah teramati. Menurut
Supardan (2014) termasuk dalam model perilaku ini adalah: Pembelajaran Tuntas (Masterylearning), Model Pembelajaran
Langsung (Direct Instruction Model).
Sedangkan Strategi
pembelajaran merupakan implementasi dari sebuah model pembelajaran. Dalam
pembelajaran guru seharusnya memilih strategi pembelajaran yang mengacu pada
empat ciri tersebut agar dicapai keberhasilan peserta didik dalam belajar. Terdapat
beragam definisi tentang strategi pembelajaran yang dikemukakan para ahli
seperti Gulo dengan mengacu pada pandangan J.R. David (Wasino & Edy
Sutrisna, 2009) mendefinisikan strategi pembelajaran sebagai rencana, metode,
dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan pengajaran
tertentu. Kemudian menurut Kokom Komalasari Strategi pembelajaran
sebagai pola umum perbuatan guru-siswa di dalam perwujudan kegiatan belajar
mengajar. Hal ini mengandung pengertian bahwa interaksi belajar mengajar
berlangsung dalam suatu pola yang digunakan bersama oleh guru dan peserta didik.
Suwarma Al Muhtar
(2014:228) mengemukakan strategi pembelajaran adalah suatu proses pembelajaran
yang direncanakan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip pembelajaran yang
efektif dilihat dari aktivitas peserta didik, peran guru, materi, sumber
pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Pendapat lain dikemukakan oleh Supardan
(2014:178) yaitu strategi pembelajaran adalah keseluruhan usaha guru termasuk
perencanaan, cara dan taktik yang digunakan untuk mencapai tujuan belajar yang
telah ditentukan sebelumnya. Berdasarkan beragam pandangan tentang strategi
pembelajaran dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu
keseluruhan proses usaha guru dalam pembelajaran yang meliputi perencanaan,
cara, taktik, dan metode, yang dilakukan dengan mempertimbangkan
prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Untuk menentukan
strategi pembelajaran yang akan digunakan menurut Edwin Fenton dalam Supardan
(2014) sebaiknya terlebih dahulu dipahami kemampuan kondisi awal siswa. Jika
Siswa sebelumnya sudah banyak memahami dan relatif menguasai materi
pembelajaran, maka pendekatan yang lebih relevan digunakan adalah discovery. Guru dalam hal ini berperan
non direktif yang berarti hanya menyajikan stimulus tertentu (kata-kata,
gambar, bagan). Peran guru dalam hal ini terbatas hanya memfasilitasi
pembelajaran siswa dengan menggunakan metode inkuiri, tanya jawab, problem
solving dan sebagainya.
Sebaliknya jika siswa
belum banyak memahami materi pembelajaran karena materi yang direncanakan guru
relatif baru, maka pendekatan dan strategi yang lebih relevan digunakan adalah
eksposisi. Melalui eksposisi, maka guru mengemukakan fakta-fakta,
konsep-konsep, maupun generalisasi yang bersifat direktif seperti ceramah
presentasi, maupun pemutaran film.
Mengingat strategi pembelajaran memiliki karakteristik
masing-masing, maka dalam menentukan strategi menurut Costa dalam Supardan
(2014) terdapat lima ketentuan yang perlu dipertimbangkan. Pertama, adanya perbedaan pola berpikir siswa menimbulkan perbedaan
strategi pembelajaran. Kedua, adanya
perbedaan gaya belajar siswa menimbulkan perbedaan pula dalam strategi
pembelajaran. Ketiga, adanya perbedaan
tujuan menimbulkan pula perbedaan strategi pembelajaran. Keempat, adanya perbedaan motif menimbulkan pula perbedaan strategi
pembelajaran. Kelima, adanya
perbedaan masalah/problem menimbulkan pula perbedaan strategi pembelajaran.
Dalam hand out perkuliahan Strategi
Pembelajaran IPS, Kokom Komalasari mengemukakan prinsip-prinsip pemilihan
strategi pembelajaran IPS sebagai berikut :
a. bermakna (meaningful)
b. integratif (integrative)
c. berbasis nilai (value based)
d. menantang (challenging)
e. aktif (Active)
ditambah dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Pengembangan berbagai potensi
dasar siswa
a. dorongan
ingin tahu (sense of curiosity)
b. minat-perhatian (sense of ineterst)
c. dorongan
membuktikan kenyataan (sense of reality)
d. dorongan menemukan sendiri (sense of
discovery)
e. dorongan bertualang (sense of adventure)
f. dorongan menghadapi tantangan (sense of
challenge)
2. Keberagaman
latar belakang lingkungan sosial siswa
3. Social entry behavior siswa
4. Kesinambungan
dan tahapan perkembangan sosial siswa
Berikut adalah empat
kategori strategi pembelajaran yang dikemukakan dalam Supardan (2014:181-190)
sebagai berikut :
1. Strategi Direktif (directive).
Menurut strategi ini, siswa secara langsung memperoleh
informasi melalui model, presentasi yang disajikan oleh guru. Strategi ini bisa
dilakukan melalui pembelajaran melalui film, tape recorder, ceramah, dan
sebagainya. Strategi pembelajaran direktif banyak digunakan untuk pembelajaran
klasikal. Melalui strategi ini siswa dan guru akan memperoleh informasi
bersama-sama.
Menurut Beyer dalam Supardan (2014), strategi direktif
ini melalui lima tahapan yaitu sebagai berikut : tahap pertama introduceyaitu memperkenalkan topik
kajian yang akan dilakukan dalam pembelajaran baik lisan maupun tertulis. Tahap
kedua, explain, pada tahap ini
dijelaskan beberapa kunci prosedur dan petunjuk praktis pencapaian serta
penguasaan materi pokok. Tahap ketiga, using
example. Pada tahap ini guru memberikan contoh-contoh akurat sesuai topik
kajian. Tahap keempat, apply the skill as
modeled by teacher. Pada fase ini siswa diuji daya serap hasil belajarnya
atau kemampuan hasil belajarnya selama proses pembelajaran dengan contoh yang diberikan
guru. Tahap kelima, reflection. Pada
tahap ini siswa merefleksikan keberhasilan tujuan pembelajaran secara
menyeluruh. Indikator keberhasilan dilihat dari keterampilan siswa dalam
mengemukakan pendapatnya baik lisan maupun tulisan.
2. Strategi Mediatif (mediative).
Strategi mediatif
mentranformasikan pengetahuan, keterampilan, dan konsep-konsep menjadi makna
baru, dan praktek dan memahami proses rasional dari pemecahan masalah,
pengambilan keputusan dan berpikir kritis. Yang tergolong dalam strategi ini
adalah Open-Ended Discussion, Concept Development or Concept Attainment
and Concept Formation, Social’s Inquiry, Moral Reasoning, dan sebagainya.
Langkah-langkah singkat
strategi inkuiri sosial seperti disebutkan oleh Supardan (2014:182) sebagai berikut
:
a. Langkah pertama “orientasi”
Pada langkah ini ditetapkan masalah sosial sebagai pokok bahasan yang
dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan yang tidak terlalu luas
cakupannya.
b. Langkah kedua “perumusan hipotesis”
Pada fase ini mencari dan merumuskan beberapa hipotesis yang disajikan
sebagai acuan dalam inkuiri sebagai bahan pengujian.
c. Langkah ketiga “definisi”
Pada langkah ini kegiatan yang dilakukan adalah menjelaskan konsep-konsep
yang terkandung dalam hipotesis tersebut.
d. Langkah keempat “eksplorasi”
Kegiatan yang dilakukan pada fase ini adalah menguji hipotesis yang
diajukan dengan logika deduksi, yaitu menghubungkan hipotesis dengan implikasi
dan asumsi-asumsinya.
e. Langkah kelima “menguji hipotesis”
Pada fase ini dilakukan pengujian hipotesis melalui pengumpulan pendapat
hasil penelitian yang dilakukan siswa.
f. Langkah keenam “generalisasi”
Pada bagian ini pemecahan masalah serta perbaikan sosial sebagai tindak
lanjut hasil penelitian.
3. Strategi Generatif (generative).
Strategi ini mendorong siswa belajar kreatif, karena
dengan mengajukan gagasan-gagasan yang orisinal, fleksibel, lancar, dan
elaboratif diharapkan siswa dapat mengahsilkan kombinasi-kombinasi baru yang
lebih berguna, logis, dan elegan.
Yang termasuk dalam strategi ini adalah : Strategi Brainstorming, Strategi Synectics, Strategi Problem Solving.
Strategi pemecahan masalah secara kreatif (Creative Problem Solving) yang
dikembangkan Parnes, meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1. menemukan fakta
2. menemukan masalah
3. menemukan gagasan
4. menemukan solusi
5. menemukan penerimaan
Sedangkan dalam
strategi Sinektik terdapat dua stategi yang mendasari prosedur tersebut yaitu :
pertama, menceritakan sesuatu yang
baru. Strategi ini dirancang untuk mengenal keanehan-keanehan yang akan
membantu siswa dalam memahami masalah, ide, produk yang mendorong siswa
kreatif. Kedua, memperkenalkan
keanehan yang dirancang untuk membuat sesuatu yang baru, ide-ide yang tidak
dikenal akan lebih berarti, namun dalam pelaksanaannya dengan analogi yang
dikenal siswa.
4. Strategi Kolaboratif.
Strategi ini menekankan pada strategi bagaimana siswa
belajar bersama. Dengan berkelompok dan belajar bersama siswa berpikir dan
memecahkan masalah bersama-sama. Yang tergolong dalam strategi kolaboratif
adalah : Pembelajaran Kooperatif (Cooperative
Learning). Pembelajaran kooperatif telah lama dikembangkan oleh para ahli
sebagai alternatif untuk meningkatkan mutu pembelajaran, terutama untuk
mentransformasikan model pembelajaran yang berpusat kepada guru kepada
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Strategi ini menekankan
efektifitas pembelajaran pada keterlibatan peserta didik pada proses belajar
bersama.
Pembelajaran
kooperatif menyumbangkan ide bahwa siswa yang bekerja sama dalam belajar dan
bertanggung jawab terhadap teman satu timnya mampu berbuat diri mereka belajar
sama baiknya. Siswa dalam satu tim akan saling mendukung untuk berhasil,
bukannya untuk gagal yang menurut Slavin (2005:8) itulah inti dalam
pembelajaran kooperatif.
Lebih lanjut
dikemukakan oleh Slavin (2005) dalam metode pembelajaran kooperatif, para siswa
akan duduk bersama dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang untuk menguasai
materi pembelajaran yang diberikan oleh guru. Jadi dalam pembelajaran
kooperatif ini adalah belajar dalam satu kelompok, dalam satu tim untuk menguasai
satu materi pembelajaran.
Tujuan yang
paling penting dari pembelajaran kooperatif adalah untuk memberikan siswa
pengetahuan, konsep, kemampuan, dan pemahaman yang mereka butuhkan supaya bisa
menjadi anggota masyarakat yang bahagia dan memberikan kontribusi. (Slavin,
2005:33). Menurut tujuan di atas maka kita dapat mengetahui bahwa melalui
pembelajaran ini, potensi siswa tidak hanya dapat berkembang dari aspek
pengetahuan saja, melainkan aspek afektif maupun keterampilan akan juga turut
berkembang. Pendapat lain
dikemukakan oleh O’Leary dan Dishon dalam Supardan (2014), pembelajaran
kooperatif menyediakan struktur cara siswa belajarkelompok. Tujuan strategi kooperatif adalah untuk membantu siswaberhasilmenyelesaikan tugas(baik
akademis dannon akademis) danmenggunakanketerampilan
sosialyang diperlukan untukmencapai keberhasilan.
Pendapat lain tentang Pembelajaran kooperatif yaitu Cooperative Learning merupakan suatu pendekatan atau sekumpulan
strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan untuk bekerjasama selama
proses pembelajaran (Suwarma Al Muhtar, 2014:249). Pelaksanaan pembelajaran
kooperatif membutuhkan partisipasi, kerjasama, saling membantu antaranggota
dalam kelompok pembelajaran. Menurut Stahl dalam Suwarma Al Muhtar bahwa cooperative learningdapat meningkatkan
cara belajar peserta didik menuju belajar lebih baik, sikap tolong menolong,
dalam perilaku sosial.
Berdasarkan beragam pendapat
tersebut di atas, maka strategi ini sangat relevan sebagai Strategi Pembelajaran
IPS, karena bidang studi IPS memiliki
tujuan mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab, rasional,
partisipatif dalam pengambilan keputusan.
Daftar Pustaka
Al
Muhtar, Suwarma. (2014). Inovasi dan
Transformasi Pembelajaran Pendidikan IPS. Bandung : Gelar Pustaka Mandiri.
Kokom
Komalasari. Handout perkuliahan :
Strategi Pembelajaran IPS. Bandung : UPI diunduh dari www.file.upi.edu, diunduh pada 14 Oktober
2014, jam 17.57 WIB.
Slavin,
E.Robert. (2005). Cooperative Learning :
Teori, Riset dan Praktik. Terjemahan. Bandung Nusa Media.
Supardan,
D. (2014). Pendidikan IPS : Perspektif filosofi, Kurikulum dan Pembelajaran.
Bandung : Prodi IPS Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Pendidikan Indonesia.
Wasino dan Edy Sutrisna. (2009) Model Dan
Strategi Pembelajaran Ips Yang Dilaksanakan Di Sekolah Menengah Pertama :(Kajian
terhadap Sekolah-sekolah di Kabupaten Pati, Jawa Tengah), terdapat dalam http://etalase.unnes.ac.id/files/66cb960420eb1b91ec2a8253e23de38e.pdf,
diunduh pada 14 Oktober 2014 jam 17.34 WIB.
mantap......semangat buat tulisan berikutnya.....
BalasHapus👍👍
BalasHapus