Kamis, 11 Juni 2020

Strategi Pembelajaran IPS


Strategi Pembelajaran IPS

Oleh : Hibar Firdaus, M.Pd.

(Guru IPS SMP Negeri 2 Sukaresmi, Kab. Pandeglang)

Dalam suatu proses pembelajaran di kelas, guru hendaknya memikirkan dan memiliki cara atau strategi yang menarik agar peserta didik menyukai dan senang terhadap mata pelajaran yang diberikan. Peserta didik yang senang dengan mata pelajarannya akan terdorong dan tertarik untuk belajar dengan rajin. Dengan demikian, kemampuan peserta didik dalam melakukan pembelajaran dapat meningkat bahkan akan mampu memecahkan sebuah permasalahan. Penggunaan strategi yang tepat dapat membangkitkan motivasi dan aktivitas pembelajaran sehingga peserta didik mampu menerima dan menyerap pelajaran dengan baik serta tidak mudah merasa bosan, melainkan akan menyenangkan dalam belajar.
Terkait dalam pembahasan ini yaitu Strategi Pembelajaran IPS, selama ini banyak strategi dalam sebuah proses pembelajaran IPS yang hanya sedikit melibatkan peserta didik maupun interaksi sesama peserta didik secara langsung. 

Istilah strategi pembelajaran sering disamakan dengan model pembelajaran, padahal keduanya memiliki konsep pemahaman, dan karakteristik yang berbeda. Istilah model pembelajaran memiliki makna yang lebih luas dari strategi pembelajaran. Model pembelajaran merujuk pada paradigma tertentu yang menjadi kerangka berpikir dan tindakan dalam pembelajarannya. Misalnya Model pembelajaran perilaku dibangun atas dasar teori yang umum, yaitu kerangka teori perilaku. Salah satu cirinya adalah kecenderungan memecahkan tugas belajar kepada sejumlah perilaku yang kecil-kecil dan berurutan serta dapat terukur. Belajar dipandang sebagai sesuatu yang tidak menyeluruh, tetapi diuraikan dalam langkah-langkahyang konkrit dan dapat diamati. Mengajar berarti mengusahakan terjadinya perbuatan dalam perilaku peserta didik, dan perubahan tersebut haruslah teramati. Menurut Supardan (2014) termasuk dalam model perilaku ini adalah: Pembelajaran Tuntas (Masterylearning), Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction Model). 
Sedangkan Strategi pembelajaran merupakan implementasi dari sebuah model pembelajaran. Dalam pembelajaran guru seharusnya memilih strategi pembelajaran yang mengacu pada empat ciri tersebut agar dicapai keberhasilan peserta didik dalam belajar. Terdapat beragam definisi tentang strategi pembelajaran yang dikemukakan para ahli seperti Gulo dengan mengacu pada pandangan J.R. David (Wasino & Edy Sutrisna, 2009) mendefinisikan strategi pembelajaran sebagai rencana, metode, dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Kemudian menurut Kokom Komalasari Strategi pembelajaran sebagai pola umum perbuatan guru-siswa di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar. Hal ini mengandung pengertian bahwa interaksi belajar mengajar berlangsung dalam suatu pola yang digunakan bersama oleh guru dan peserta didik.
Suwarma Al Muhtar (2014:228) mengemukakan strategi pembelajaran adalah suatu proses pembelajaran yang direncanakan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif dilihat dari aktivitas peserta didik, peran guru, materi, sumber pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Pendapat lain dikemukakan oleh Supardan (2014:178) yaitu strategi pembelajaran adalah keseluruhan usaha guru termasuk perencanaan, cara dan taktik yang digunakan untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan sebelumnya. Berdasarkan beragam pandangan tentang strategi pembelajaran dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu keseluruhan proses usaha guru dalam pembelajaran yang meliputi perencanaan, cara, taktik, dan metode, yang dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Untuk menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan menurut Edwin Fenton dalam Supardan (2014) sebaiknya terlebih dahulu dipahami kemampuan kondisi awal siswa. Jika Siswa sebelumnya sudah banyak memahami dan relatif menguasai materi pembelajaran, maka pendekatan yang lebih relevan digunakan adalah discovery. Guru dalam hal ini berperan non direktif yang berarti hanya menyajikan stimulus tertentu (kata-kata, gambar, bagan). Peran guru dalam hal ini terbatas hanya memfasilitasi pembelajaran siswa dengan menggunakan metode inkuiri, tanya jawab, problem solving dan sebagainya.
Sebaliknya jika siswa belum banyak memahami materi pembelajaran karena materi yang direncanakan guru relatif baru, maka pendekatan dan strategi yang lebih relevan digunakan adalah eksposisi. Melalui eksposisi, maka guru mengemukakan fakta-fakta, konsep-konsep, maupun generalisasi yang bersifat direktif seperti ceramah presentasi, maupun pemutaran film. 
   Mengingat strategi pembelajaran memiliki karakteristik masing-masing, maka dalam menentukan strategi menurut Costa dalam Supardan (2014) terdapat lima ketentuan yang perlu dipertimbangkan. Pertama, adanya perbedaan pola berpikir siswa menimbulkan perbedaan strategi pembelajaran. Kedua, adanya perbedaan gaya belajar siswa menimbulkan perbedaan pula dalam strategi pembelajaran. Ketiga, adanya perbedaan tujuan menimbulkan pula perbedaan strategi pembelajaran. Keempat, adanya perbedaan motif menimbulkan pula perbedaan strategi pembelajaran. Kelima, adanya perbedaan masalah/problem menimbulkan pula perbedaan strategi pembelajaran.
Dalam hand out perkuliahan Strategi Pembelajaran IPS, Kokom Komalasari mengemukakan prinsip-prinsip pemilihan strategi pembelajaran IPS sebagai berikut :
a.       bermakna (meaningful) 
b.      integratif (integrative) 
c.       berbasis nilai (value based) 
d.      menantang (challenging) 
e.       aktif (Active)

ditambah dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: 
1.   Pengembangan berbagai potensi dasar siswa
a.  dorongan ingin tahu (sense of curiosity)
b.   minat-perhatian (sense of ineterst)
c.  dorongan membuktikan kenyataan (sense of reality)
d.   dorongan menemukan sendiri (sense of discovery)
e.   dorongan bertualang (sense of adventure
f.    dorongan menghadapi tantangan (sense of challenge)

2.  Keberagaman latar belakang lingkungan sosial  siswa 
3.  Social entry behavior siswa 
4.  Kesinambungan dan tahapan perkembangan sosial siswa

Berikut adalah empat kategori strategi pembelajaran yang dikemukakan dalam Supardan (2014:181-190) sebagai berikut :
1.      Strategi Direktif (directive).
Menurut strategi ini, siswa secara langsung memperoleh informasi melalui model, presentasi yang disajikan oleh guru. Strategi ini bisa dilakukan melalui pembelajaran melalui film, tape recorder, ceramah, dan sebagainya. Strategi pembelajaran direktif banyak digunakan untuk pembelajaran klasikal. Melalui strategi ini siswa dan guru akan memperoleh informasi bersama-sama.
Menurut Beyer dalam Supardan (2014), strategi direktif ini melalui lima tahapan yaitu sebagai berikut : tahap pertama introduceyaitu memperkenalkan topik kajian yang akan dilakukan dalam pembelajaran baik lisan maupun tertulis. Tahap kedua, explain, pada tahap ini dijelaskan beberapa kunci prosedur dan petunjuk praktis pencapaian serta penguasaan materi pokok. Tahap ketiga, using example. Pada tahap ini guru memberikan contoh-contoh akurat sesuai topik kajian. Tahap keempat, apply the skill as modeled by teacher. Pada fase ini siswa diuji daya serap hasil belajarnya atau kemampuan hasil belajarnya selama proses pembelajaran dengan contoh yang diberikan guru. Tahap kelima, reflection. Pada tahap ini siswa merefleksikan keberhasilan tujuan pembelajaran secara menyeluruh. Indikator keberhasilan dilihat dari keterampilan siswa dalam mengemukakan pendapatnya baik lisan maupun tulisan.

2.      Strategi Mediatif (mediative).
Strategi mediatif mentranformasikan pengetahuan, keterampilan, dan konsep-konsep menjadi makna baru, dan praktek dan memahami proses rasional dari pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan berpikir kritis. Yang tergolong dalam strategi ini adalah Open-Ended Discussion, Concept Development or Concept Attainment and Concept Formation, Social’s Inquiry, Moral Reasoning, dan sebagainya.

Langkah-langkah singkat strategi inkuiri sosial seperti disebutkan oleh Supardan (2014:182) sebagai berikut :
a.       Langkah pertama “orientasi”
Pada langkah ini ditetapkan masalah sosial sebagai pokok bahasan yang dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan yang tidak terlalu luas cakupannya.
b.      Langkah kedua “perumusan hipotesis”
Pada fase ini mencari dan merumuskan beberapa hipotesis yang disajikan sebagai acuan dalam inkuiri sebagai bahan pengujian.
c.       Langkah ketiga “definisi”
Pada langkah ini kegiatan yang dilakukan adalah menjelaskan konsep-konsep yang terkandung dalam hipotesis tersebut.
d.      Langkah keempat “eksplorasi”
Kegiatan yang dilakukan pada fase ini adalah menguji hipotesis yang diajukan dengan logika deduksi, yaitu menghubungkan hipotesis dengan implikasi dan asumsi-asumsinya.
e.       Langkah kelima “menguji hipotesis”
Pada fase ini dilakukan pengujian hipotesis melalui pengumpulan pendapat hasil penelitian yang dilakukan siswa.
f.       Langkah keenam “generalisasi”
Pada bagian ini pemecahan masalah serta perbaikan sosial sebagai tindak lanjut hasil penelitian.

3.      Strategi Generatif (generative).
Strategi ini mendorong siswa belajar kreatif, karena dengan mengajukan gagasan-gagasan yang orisinal, fleksibel, lancar, dan elaboratif diharapkan siswa dapat mengahsilkan kombinasi-kombinasi baru yang lebih berguna, logis, dan elegan.
Yang termasuk dalam strategi ini adalah : Strategi Brainstorming, Strategi Synectics, Strategi Problem Solving.
Strategi pemecahan masalah secara kreatif (Creative Problem Solving) yang dikembangkan Parnes, meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1.      menemukan fakta
2.      menemukan masalah
3.      menemukan gagasan
4.      menemukan solusi
5.      menemukan penerimaan

Sedangkan dalam strategi Sinektik terdapat dua stategi yang mendasari prosedur tersebut yaitu : pertama, menceritakan sesuatu yang baru. Strategi ini dirancang untuk mengenal keanehan-keanehan yang akan membantu siswa dalam memahami masalah, ide, produk yang mendorong siswa kreatif. Kedua, memperkenalkan keanehan yang dirancang untuk membuat sesuatu yang baru, ide-ide yang tidak dikenal akan lebih berarti, namun dalam pelaksanaannya dengan analogi yang dikenal siswa.

4.      Strategi Kolaboratif.
Strategi ini menekankan pada strategi bagaimana siswa belajar bersama. Dengan berkelompok dan belajar bersama siswa berpikir dan memecahkan masalah bersama-sama. Yang tergolong dalam strategi kolaboratif adalah : Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning). Pembelajaran kooperatif telah lama dikembangkan oleh para ahli sebagai alternatif untuk meningkatkan mutu pembelajaran, terutama untuk mentransformasikan model pembelajaran yang berpusat kepada guru kepada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Strategi ini menekankan efektifitas pembelajaran pada keterlibatan peserta didik pada proses belajar bersama.
Pembelajaran kooperatif menyumbangkan ide bahwa siswa yang bekerja sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap teman satu timnya mampu berbuat diri mereka belajar sama baiknya. Siswa dalam satu tim akan saling mendukung untuk berhasil, bukannya untuk gagal yang menurut Slavin (2005:8) itulah inti dalam pembelajaran kooperatif.
Lebih lanjut dikemukakan oleh Slavin (2005) dalam metode pembelajaran kooperatif, para siswa akan duduk bersama dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang untuk menguasai materi pembelajaran yang diberikan oleh guru. Jadi dalam pembelajaran kooperatif ini adalah belajar dalam satu kelompok, dalam satu tim untuk menguasai satu materi pembelajaran.
Tujuan yang paling penting dari pembelajaran kooperatif adalah untuk memberikan siswa pengetahuan, konsep, kemampuan, dan pemahaman yang mereka butuhkan supaya bisa menjadi anggota masyarakat yang bahagia dan memberikan kontribusi. (Slavin, 2005:33). Menurut tujuan di atas maka kita dapat mengetahui bahwa melalui pembelajaran ini, potensi siswa tidak hanya dapat berkembang dari aspek pengetahuan saja, melainkan aspek afektif maupun keterampilan akan juga turut berkembang. Pendapat lain dikemukakan oleh O’Leary dan Dishon dalam Supardan (2014), pembelajaran kooperatif menyediakan struktur cara siswa belajarkelompok. Tujuan strategi kooperatif adalah untuk membantu siswaberhasilmenyelesaikan tugas(baik akademis dannon akademis) danmenggunakanketerampilan sosialyang diperlukan untukmencapai keberhasilan. Pendapat lain tentang Pembelajaran kooperatif yaitu Cooperative Learning merupakan suatu pendekatan atau sekumpulan strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan untuk bekerjasama selama proses pembelajaran (Suwarma Al Muhtar, 2014:249). Pelaksanaan pembelajaran kooperatif membutuhkan partisipasi, kerjasama, saling membantu antaranggota dalam kelompok pembelajaran. Menurut Stahl dalam Suwarma Al Muhtar bahwa cooperative learningdapat meningkatkan cara belajar peserta didik menuju belajar lebih baik, sikap tolong menolong, dalam perilaku sosial. 
Berdasarkan beragam pendapat tersebut di atas, maka strategi ini sangat relevan sebagai Strategi Pembelajaran IPS, karena bidang studi IPS memiliki tujuan mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab, rasional, partisipatif dalam pengambilan keputusan.























              














Daftar Pustaka



Al Muhtar, Suwarma. (2014). Inovasi dan Transformasi Pembelajaran Pendidikan IPS. Bandung : Gelar Pustaka Mandiri.

Kokom Komalasari. Handout perkuliahan : Strategi Pembelajaran IPS. Bandung : UPI diunduh dari www.file.upi.edu, diunduh pada 14 Oktober 2014, jam 17.57 WIB.

Slavin, E.Robert. (2005). Cooperative Learning : Teori, Riset dan Praktik. Terjemahan. Bandung Nusa Media.

Supardan, D. (2014). Pendidikan IPS : Perspektif filosofi, Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Prodi IPS Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Pendidikan Indonesia.

Wasino dan Edy Sutrisna. (2009) Model Dan Strategi Pembelajaran Ips Yang Dilaksanakan Di Sekolah Menengah Pertama :(Kajian terhadap Sekolah-sekolah di Kabupaten Pati, Jawa Tengah), terdapat dalam http://etalase.unnes.ac.id/files/66cb960420eb1b91ec2a8253e23de38e.pdf, diunduh pada 14 Oktober 2014 jam 17.34 WIB.

2 komentar: