Minggu, 27 September 2020

SEJARAH PANDEGLANG

 

TAPAK PERADABAN PURBA DI LERENG GUNUNG PULASARI*)

( Bagian 1 )**)

 

 

Setelah kemarin kita membahas tentang Situs Cihunjuran pada pembahasan “Keberadaan Situs Cihunjuran dan Dugaan Keberadaan Kerajaan Salakanagara”, kini kami akan mengajak pembaca untuk menjelajahi waktu menyusuri lereng Gunung Pulasari lainnya yang tidak begitu jauh dari letak Situs Cihunjuran, yaitu Situs Tamansari dan Kontol Gopar.

 

Tamansari

Lokasi yang oleh penduduk setempat disebut sebagai Tamansari sekarang merupakan lahan bekas perkebunan rakyat yang menempati lereng Gunung Pulasari, sekira 3 km dari pusat kota Kecamatan Mandalawangi. Dengan ketinggian k.l. 400-500 mdpl. Situs Tamansari bisa dicapai melalui jalan kampung Gombrangn kearah selatan dan dari kolam Cihunjuran. Termasuk wilayah Desa Cikoneng, Kecamatan Mandalawangi, situs terutama ditumbuhi oleh vegetasi kopi pada bagian kemiringan terjal, yang pada tahun 2008 telah diratakan untuk kepentingan Bumi Perkemahan.

Kekunaan situs sekarang hampir tidak dapat ditandai, karena sulitnya melacak sisa-sisa hunian atau indikasi arkeologis pada lahan yang cukup terjal. Namun pada beberapa dataran sempit yang tanahnya telah mengalami pengupasan untuk kegiatan perkebunan, tampak sejumlah pecahan keramik impor tersebar tidak merata di atas permukaan tanah. Pada salah satu jalan desa yang baru dibuka untuk memberi akses transportasi ke lokasi Tamansari dan sampai ke sebuah kebun kopi bernama Soklek, di perbukitan Cihunjuran, ditemukan fragmen batu pipisan tergolek di sisi jalan yang bentuknya masih sederhana.

Sebaran pecahan keramik ditemukan sampai ke kampung Gombrang yang berpenduduk cukup padat. Tampaknya kampung tersebut merupakan sebuah unit pemukiman penduduk yang tidak terlalu tua dan merupakan salah satu desa yang tertera pada peta topografi yang diproduksi oleh The US Army Map Service (AMS) dari  peta Dinas Hidrorafi Belanda pada tahun 1920.

Dengan melihat sebaran pecahan keramik dari Tamansari hingga ke kampung Gombrang, timbul pertanyaan apakah perkampungan itu merupakan pembukaan desa baru sebagai konsekuensi penerapan sistem pemerintahan kolonial untuk membuka desa-desa yang aksebilitasnya mudah bagi upaya pengendalian administratif kolonial. Dengan kebijakan itu, maka bisa jadi situs hunian di Tamansari harus ditinggalkan dan menjadikannya sebagai lahan perkebunan kopi.

 

Kontol Gopar

Sebuah situs penting ditemukan di sebelah Selatan situs Tamansari, sekira 1 km dari kampung Gombrang menaiki bukit dengan ketinggian k.l. 600 mdpl. Penduduk setempat menyebut lokasi tersebut dengan nama “Kontol Gopar” (KG). Lokasi yang disebut situs KG ini sesungguhnya merupakan sebuah ruang sistemik yang mempunyai fungsi sebagai tempat “Pemujaan” atau “Pertapaan”.

Ruang sistemik itu dikarakterisasikan oleh keberadaan komponen-komponen indikatif seperti misalnya sumber air yang membentuk kolam atau petirtaan, batu-batu besar yang mendukung fungsi kesucian air seperti batu datar (biasa difungsikan sebagai altar), batu berlubang lebih dari satu, batu lumpang, dan batu tegak (menhir). Sifat kesakralan situs KG selain ditampakkan oleh keberadaan batu-batu besar, juga ditandai oleh pohon-pohon besar yang menaungi situs.

Dari seluruh komponen batu yang ada di situs KG, tampaknya yang paling menonjol adalah batu tegak yang dalam istilah arkeologi disebut “Menhir”, yang saat ditemukan sedah dalam kondisi rebah. Dengan ketinggian mencapai 85 cm dan bentuknya yang phallic mengesankan orang pada bentuk alat kelamin laki-laki. Barangkali dari bentuknya itulah nama situs ini lebih populer di kalangan penduduk dengan sebutan Kontol Gopar, yang berarti kelamin seorang tokoh “Gapar” (laki-laki besar ?).

Salah satu temuan menarik telah ditunjukkan oleh penduduk kampung Gombrang yang sedang bekerja di sawahnya, tidak jauh dari situs KG. Pada pematang sawah yang terjal ditemukan sebuah tempayan besar dari bahan tanah liat (earthenware) berglasir warna kuning kecoklatan (krem). Tempayan tersebut tersembul dari dalam tanah bersamaan dengan runtuhnya tebing setelah turunnya hujan lebat.

Penemuan tersebut di satu pihak menggembirakan karena untuk pertama kalinya ada barang keramik impor yang ditemukan utuh, tetapi dilain pihak muncul banyak masalah menyangkut proses tafonomi artefak tersebut. Pertanyaannya, apakah tempayan utuh tersebut sengaja dikubur dan untuk tujuan apa ?. Dengan tetap mengingat penelitian saat itu masih perlu dikembangkan lebih jauh, apriori penemuan wadah berglasir tersebut mestinya terasosiasi dengan lokasi “keramat” KG. Hanya saja, nantinya, perlu memperluas pertanyaan ke arah hubungan fungsional antara situs keramat dengan penemuan benda profan; bukan hanya wadah utuh seperti di kampung Gombrang, tetapi juga dengan sejumlah besar fragmen wadah impor lainnya.

Tidak jauh dari situs KG, sekira 100 meter terdapat sumber air yang ditepinya ditemukan batu berlubang yang cukup besar dengan diameter 18 cm dan memiliki kedalaman 22 cm. Keunikan dari sumber air ini memiliki dua liran air yang keluar dari lubang batu cadas dengan rasa yang berbeda, padahal lubang alirang air itu saling berdampingan. Satu berasa tawar dan yang lainnya berasa asam.

 

*) disalin dari buku “Katalogus Data Arkeologi Pandeglang” volume I.

Diterbitkan oleh Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kab. Pandeglang, bekerjasama dengan Banten Haeritage, tahun 2003.

**) oleh Uri M. Rachmawiana, S.Pd.

 

 

Foto-foto Pendukung:

 

Tempayan                               Menhir KG

 

Batu berlubang ditepi kolam Sumber Air tidak jauh dari Situs KG.

 

 

 

 

1 komentar:

  1. Belum lengkap dgn data yang jelasnya kapan situs itu di temukan siapa tokoh - tokoh yang membangun situs itu..

    BalasHapus