TAPAK PERADABAN
PURBA DI LERENG GUNUNG PULASARI*)
( Bagian 1 )**)
Setelah
kemarin kita membahas tentang Situs Cihunjuran pada pembahasan “Keberadaan
Situs Cihunjuran dan Dugaan Keberadaan Kerajaan Salakanagara”, kini kami akan
mengajak pembaca untuk menjelajahi waktu menyusuri lereng Gunung Pulasari
lainnya yang tidak begitu jauh dari letak Situs Cihunjuran, yaitu Situs
Tamansari dan Kontol Gopar.
Tamansari
Lokasi yang oleh penduduk setempat
disebut sebagai Tamansari sekarang merupakan lahan bekas perkebunan rakyat yang
menempati lereng Gunung Pulasari, sekira 3 km dari pusat kota Kecamatan
Mandalawangi. Dengan ketinggian k.l. 400-500 mdpl. Situs Tamansari bisa dicapai
melalui jalan kampung Gombrangn kearah selatan dan dari kolam Cihunjuran.
Termasuk wilayah Desa Cikoneng, Kecamatan Mandalawangi, situs terutama
ditumbuhi oleh vegetasi kopi pada bagian kemiringan terjal, yang pada tahun
2008 telah diratakan untuk kepentingan Bumi Perkemahan.
Kekunaan situs sekarang hampir tidak
dapat ditandai, karena sulitnya melacak sisa-sisa hunian atau indikasi
arkeologis pada lahan yang cukup terjal. Namun pada beberapa dataran sempit
yang tanahnya telah mengalami pengupasan untuk kegiatan perkebunan, tampak
sejumlah pecahan keramik impor tersebar tidak merata di atas permukaan tanah.
Pada salah satu jalan desa yang baru dibuka untuk memberi akses transportasi ke
lokasi Tamansari dan sampai ke sebuah kebun kopi bernama Soklek, di perbukitan
Cihunjuran, ditemukan fragmen batu pipisan tergolek di sisi jalan yang bentuknya
masih sederhana.
Sebaran pecahan keramik ditemukan sampai
ke kampung Gombrang yang berpenduduk cukup padat. Tampaknya kampung tersebut
merupakan sebuah unit pemukiman penduduk yang tidak terlalu tua dan merupakan
salah satu desa yang tertera pada peta topografi yang diproduksi oleh The US Army Map Service (AMS) dari peta Dinas Hidrorafi Belanda pada tahun 1920.
Dengan melihat sebaran pecahan keramik
dari Tamansari hingga ke kampung Gombrang, timbul pertanyaan apakah
perkampungan itu merupakan pembukaan desa baru sebagai konsekuensi penerapan
sistem pemerintahan kolonial untuk membuka desa-desa yang aksebilitasnya mudah
bagi upaya pengendalian administratif kolonial. Dengan kebijakan itu, maka bisa
jadi situs hunian di Tamansari harus ditinggalkan dan menjadikannya sebagai
lahan perkebunan kopi.
Kontol Gopar
Sebuah situs penting ditemukan di
sebelah Selatan situs Tamansari, sekira 1 km dari kampung Gombrang menaiki
bukit dengan ketinggian k.l. 600 mdpl. Penduduk setempat menyebut lokasi
tersebut dengan nama “Kontol Gopar” (KG). Lokasi yang disebut situs KG ini
sesungguhnya merupakan sebuah ruang sistemik yang mempunyai fungsi sebagai
tempat “Pemujaan” atau “Pertapaan”.
Ruang sistemik itu dikarakterisasikan
oleh keberadaan komponen-komponen indikatif seperti misalnya sumber air yang
membentuk kolam atau petirtaan, batu-batu besar yang mendukung fungsi kesucian
air seperti batu datar (biasa difungsikan sebagai altar), batu berlubang lebih
dari satu, batu lumpang, dan batu tegak (menhir). Sifat kesakralan situs KG
selain ditampakkan oleh keberadaan batu-batu besar, juga ditandai oleh
pohon-pohon besar yang menaungi situs.
Dari seluruh komponen batu yang ada di
situs KG, tampaknya yang paling menonjol adalah batu tegak yang dalam istilah
arkeologi disebut “Menhir”, yang saat
ditemukan sedah dalam kondisi rebah. Dengan ketinggian mencapai 85 cm dan
bentuknya yang phallic mengesankan
orang pada bentuk alat kelamin laki-laki. Barangkali dari bentuknya itulah nama
situs ini lebih populer di kalangan penduduk dengan sebutan Kontol Gopar, yang berarti kelamin
seorang tokoh “Gapar” (laki-laki besar ?).
Salah satu temuan menarik telah
ditunjukkan oleh penduduk kampung Gombrang yang sedang bekerja di sawahnya,
tidak jauh dari situs KG. Pada pematang sawah yang terjal ditemukan sebuah
tempayan besar dari bahan tanah liat (earthenware)
berglasir warna kuning kecoklatan (krem). Tempayan tersebut tersembul dari
dalam tanah bersamaan dengan runtuhnya tebing setelah turunnya hujan lebat.
Penemuan tersebut di satu pihak
menggembirakan karena untuk pertama kalinya ada barang keramik impor yang
ditemukan utuh, tetapi dilain pihak muncul banyak masalah menyangkut proses
tafonomi artefak tersebut. Pertanyaannya, apakah tempayan utuh tersebut sengaja
dikubur dan untuk tujuan apa ?. Dengan tetap mengingat penelitian saat itu
masih perlu dikembangkan lebih jauh, apriori
penemuan wadah berglasir tersebut mestinya terasosiasi dengan lokasi “keramat” KG.
Hanya saja, nantinya, perlu memperluas pertanyaan ke arah hubungan fungsional
antara situs keramat dengan penemuan benda profan; bukan hanya wadah utuh
seperti di kampung Gombrang, tetapi juga dengan sejumlah besar fragmen wadah
impor lainnya.
Tidak jauh dari situs KG, sekira 100
meter terdapat sumber air yang ditepinya ditemukan batu berlubang yang cukup
besar dengan diameter 18 cm dan memiliki kedalaman 22 cm. Keunikan dari sumber
air ini memiliki dua liran air yang keluar dari lubang batu cadas dengan rasa
yang berbeda, padahal lubang alirang air itu saling berdampingan. Satu berasa
tawar dan yang lainnya berasa asam.
*) disalin dari buku
“Katalogus Data Arkeologi Pandeglang” volume I.
Diterbitkan oleh
Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kab. Pandeglang, bekerjasama dengan Banten
Haeritage, tahun 2003.
**) oleh Uri M.
Rachmawiana, S.Pd.
Foto-foto Pendukung:


Tempayan Menhir KG
Batu berlubang ditepi kolam Sumber Air tidak jauh dari
Situs KG.
Belum lengkap dgn data yang jelasnya kapan situs itu di temukan siapa tokoh - tokoh yang membangun situs itu..
BalasHapus